Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Oktober 2011

Karya-karya Para Imam Pentakhrij Hadits

1). Imam Malik bin Anas
Imam Malik dilahirkan pada Tahun 93 H dan meninggal pada hari Ahad tanggal 14 rabi’ul Awal 179 H. Adapun karya Imam Malik yang sangat terkenal dalam bidang ilmu hadits adalah kitab “Al Muwathta’” kitab ini ditulis pada tahun 144 H atas anjuran khalifah Ja’far Al Manshur, sewaktu berjumpa di saat-saat menunaikan ibadah haji. Menurut penelitian dan perhitungan yang dilakukan oleh Abu Bakar Al Abhary, jumlah atsar rasullah, sahabat, dan tabi’in yang tercantum dalam kitab Al Muwathta’ berjumlah 1720 buah, dengan peerincian yang musnad sebanyak 600 buah, yang mursal sebanyak 222 buah, yang mauquf sebanyak 613 buah dan yang maqthu’ sebanyak 285 buah. Yang kemudian kitab Al Muwathta’ itu disyarh oleh para ulama, misal “At Tamhid Wal Istidkar” oleh Abdil Barr, “Al Mau’ib” oleh Abdul Walid, dan “Al Musawwa” oleh Az Zarqany dan Ad Dahlawy.

2). Imam Bukhari
Imam Bukhari dilahirkan pada tanggal 13 Syawal 194 H tepat selesai shalat jum’at dan meninggal pada hari sabtu malam selesai shalat isya’ serta bertepatan dengan malam ‘idul Fitri tahun 252 H, lalu dikebumikan setelah shalat dzuhur di Khirtank di suatu kampung yang tidak jauh dari kota Samarkand. Adapun karya Imam Bukhari : Jami’ush Shahih yakni kumpulan hadits-hadits yang disiapkan selama 16 tahun lamanya, ia sangat berhati-hati menuliskan setiap hadits pada kitab ini dan kitab ini berisikan hadits-hadits shahih semuanya, berdasar pengakuan beliau sendiri, “Saya tidak memasukkan dalam kitabku ini, kecuali shahih semuanya”; Qadlayash Shahabah Wat Tabi’in; At Tariikhul Kabir; dan Birrul Walidain.

3). Imam Muslim
Imam Muslim dilahirkan pada tahun 204 H di Nisabur sebuah kota kecil di Iran bagian Timur Laut dan meninggal dunia pada hari Ahad Rajab 261 H, lalu dikebumikan hari Senin di Nisabur. Adapun karya Imam Muslim : Kitab Shahih, ini berisikan hadits sebanyak 7273 buah, termasuk dengan yang berulang dan kalau dikurangi tinggal 4000 buah ; Musnadul Kabir, kitab yang menerangkan tentang nama-nama rijalul hadits ; Al Jami’ul Kabir; Kitabul ‘ilal wa Kitabul Auhamil Muhadditsin ; Kitabut Tamyiz ; Kitabu Man Laisa Lahu Illa rawin Wahidum ; Kitabuth Thabaqatut tabi’in dan Kitabul Muhadlramin.

4) Imam Abu Dawud
Imam Abu Dawud dilahirkan pada tahun 202 H di Kota Sijistan yang terletak antara Iran dan Afganistan dan meninggal pada tanggal 14 Syawal 275 H di Basrah. Adapun karya Imam Abu Dawud itu banyak, namun yang terbesar dan sangat berfaedah adalah kitab Sunan yang kemudian terkenal dengan nama Sunan Abu Dawud. Ia mengaku telah mendengar hadits dari rasullah SAW. Sebanyak 500.000 buah. Dari jumlah itu ia seleksi dan ditulis dalam kitab sunannya sebanyak 4800 buah. Ia berkata “Saya tidak meletakkan sebuah hadits yang telah disepakati oleh orang banyak untuk ditinggalkannya”, Saya jelaskan dalam kitab tersebut nilainya dengan shahih, semi shahih, mendekati shahih, dan jika dalam kitab saya tersebut terdapat hadits yang Wahnun Syadidun saya jelaskan.
5). Imam At Turmudzi
Imam At Turmudzi dilahirkan pada bulan Dzul Hijjah tahun 200 H di Kota Turmudz yang terletak di pinggir utara sungai Amuderiya sebelah utara Iran dan meninggal pada Hari Ahad malam tanggal 13 Rajab 279 H di Tirmidz. Adapun karya sang Imam adalah kitab Sunan dan kitab ‘Illalul Hadits. Kitab sunan ini banyak sekali faedahnya dan hukum-hukumnya lebih tertib dan paling sedikit pengulangannya. Dan ia berkata “Saya kemukakan kitab ini atas ulama Hijaz, Iraq, dan Khurasan, lalu mereka menyukainya dan memandangnya baik. Barangsiapa yang menyimpan kitab ini dirumahnya, dikatakan seolah-olah dirumahnya ada seorang Nabi yang selalu bersabda dan pada akhir kitabnya ia menerangkan bahwa semua hadits yang terdapat dalam kitab ini adalah ma’mul yakni dapat diamalkan.

6) Imam An Nasa’iy
Imam An Nasa’iy dilahirkan pada tahun 215 H di Kota Nasa dan termasuk dalam wilayah Khurasan. Beliau meninggal pada hari Senin tanggal 13 Safar 302 H di Kota Mekkah, disaat ia mendapat percobaan di Damsyik, meminta supaya di bawa ke Mekkah sampai ia meninggal dan kemudian dikebumikan di suatu tempat antara Shafa dan Marwa. Adapun karya sang Imam yang utama adalah Sunanul Kubra, yang kemudian terkenal dengan nama Sunan An Nasa’iy. Kitab Sunan ini adalah kitab sunan yang muncul setelah shahihaini yang paling sedikit hadits dha’ifnya, tetapi paling banyak pengulangannya. Misal hadits tentang niat diulang sampai enam belas kali. Lalu sebagian para amir bertanya tentang kitabnya, apakah seluruhnya shahih?, An Nasa’iy menjawab ada yang shahih, hasan, dan mendekatnya. Kalau demikian, kata Amir: pisahkanlah yang shahih-shahih saja, lalu ia menyeleksinya, kemudian dihimpunnya hadits-hadits pilihan ini dengan diberi nama “Al Mujtaba” (pilihan).

7) Imam Ibnu Majah
Imam Ibnu Majah dilahirkan pada tahun 207 H di Qazwin, dan meninggal pada hari Selasa tanggal 8 Ramadhan 273 H. Adapun karya beliau adalah kitab Sunan yang kemudian terkenal dengan nama Sunan Ibnu Majah. Sunan ini merupakan salah satu sunan yang empat dan kitab sunan ini banyak terdapat hadits-hadits dha’if bahkan tidak sedikit hadits yang mungkar. Disamping itu beliau juga memiliki Tafsir yang banyak dan tarikh yang sempurna sejak masa sahabat hingga masanya.

8) Imam Ahmad bin Hambal
Imam Ahmad dilahirkan pada Rabi’ul Awal 164 H di Kota Bagdad dan meninggal pada hari Jum’at bulan Rabi’ul Awal 241 H di Bagdad dan dikebumikan di Marwaz. Adapun karya beliau yang sangat gemilang adalah Musnadul Kabir yang merupakan satu-satunya kitab musnad terbaik dan terbesar diantara kitab-kitab musnad yang pernah ada yang berisikan 40.000 buah hadits dan 10.000 hadits ulangan serta kitab ini belum diatur bab per bab. Kemudian oleh Ahmad Muhammad Syakir seorang ahli Hadits yang terkenal di Mesir berusaha menyusun daftar isi kitab musnad dengan mengambil nama Fihris Musnad Ahmad.
sumber : buku Hadits Qudsi 
oleh : Labib. MZ dan Drs. Muhtadim
Cv : Bintang Pelajar

Minggu, 23 Oktober 2011

Biografi Singkat Empat Imam Besar dalam Dunia Islam


Imam Hanafi (80-150 H)
Beliau dilahirkan pada tahun 80 H dan meninggal dunia di Bagdad pada tahun 150 H. Beliau belajar di Kufah dan disanalah beliau mulai menyusun mazhabnya. Kemudian beliau duduk berfatwa mengembangkan ilmu pengatahuan di Bagdad. Beliau memberikan penerangan kepada segenap lapisan muslimin, sehingga beliau terkenal sebagai seorag alim yang terbesar di masa itu, mahir dalam ilmu fiqh serta pandai meng-istinbat-kan hukum dari Al-Qur’an dan Hadits.
Menurut riwayat yang dapat dipercaya, beliau adalah wadi’ilmu fiqh (yang mula-mula menyusun ilmu fiqh sebagaimana susunan sekarang ini). Beberapa ulama telah bergaul dengan Beliau, mereka pelajari mazhab beliau dan hukum yang mereka dapat dari beliau itu mereka tulis (bukukan). Mereka sebagai pendukung mazhab Abu Hanifah, sebagian besar dari mereka kembali menyelidiki dan memeriksa hukum-hukum dengan memeriksa dalil-dalilnya serta disesuaikan dengan keadaan-keadaan kefaedahan dan kemudaratannya, sehingga beberapa di antara mereka ada yang tidak mufakat terhadap sebagian dari hukum-hukum yang telah ditetapkan oleh sang imam, bahkan mereka tetapkan hukumnya menurut pendapat mereka sendiri, berbeda dengan pendapat Imam Abu Hanifah. Mereka inilah yang dinamakan sahabat-sahabat Abu Hanifah, diantaranya Abu Yusuf, Muhammad bin Hasan , dan Zufar. Mazhab ini banyak tersiar di Bagdad, Parsi, Bukhara, Mesir, Syam, dan tempat-tempat lain.
Imam Maliki (93-170 H)
Imam Malik bin Anas Al-Asbahi dilahirkan tahun 93 H dan meninggal dunia dalam bulan Safar tahun 170 H. Beliau belajar di Madinah dan di sanalah beliau menulis kitab Al-Muwatta, kitab hadits yang terkenal sampai sekarang. Beliau menyusun kitab tersebut atas anjuran Khalifah Mansur ketika beliau bertemu pada waktu menunaikan ibadah haji.
Beliau menyusun mazhabnya atas empat dasar: Kitab Suci, Sunnah Rasul, Ijma’, dan Qias. Hanya dasar yang terakhir ini beliau gunakan dalam hal-hal yang terbatas sekali karena beliau adalah ahli hadits. Beliau berkata, “Sesungguhnya saya sebagai manusia biasa kadang-kadang betul dan kadang-kadang salah, maka hendaklah kamu periksa dan kamu selidiki pendapat-pendapatku itu; mana yang sesuai dengan sunnah, ambillah!”.
Imam Malik adalah ahli fiqih dan hadits. Pada masanya beliau terbilang paling berpengaruh di seluruh Hijaz. Orang menyebutnya “Sayyid Fuqaha Al-Hijaz” (pemimpin ahli fiqih di seluruh daerah Hiajz). Beliau mempunyai banyak sahabat (murid), di antaranya yang terkemuka ialah Muhammad bin Idris bin syafii, Al-Laisy bin Sa’ad, Abu Ishaq Al Farazi. Pengikut mazhab ini yang terbanyak terdapat di Tunisia, Tripoli, Magribi, dan Mesir.
Imam Syafii (150-204 H)
Beliau merupaka keturunan Quraisy, dilahirkan di Khuzzah tahun 150 H dan meninggal dunia di Mesir tahun 204 H. Sewaktur berumur 7 tahun, beliau telah hafal Al-Qur’an. Setelah berumur 10 tahun, beliau  hafal Al-Muwatta (kitab guru beliau, Imam Malik). Setelah beliau berumur 20 tahun, beliau mendapat izin dari gurunya (Muslim bin Khalid) untuk berfatwa. Kata Ali bin Usman, “Saya tidak pernah melihat seseorang yang lebih pintar daripada Syafii”. Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang menyamainya di masa itu. Ia pintar dalam segala pengetahuan, sehingga bila ia melontarkan anak panah, dapat dijamin 90% akan mengenai sasarannya”.
Ketika hampir berumur 20 tahun, beliau pergi ke Madinah karena mendengar kabar tentang Imam Malik yang begitu terkenal sebagai ulama besar dalam ilmu hadits dan fiqih. Di sana beliau belajar kepada Imam Malik. Kemudian beliau pergi ke Irak, di sana bergaul dengan sahabat-sahabat Imam Abu Hanifah. Beliau terus ke Parsi dan beberapa negeri lain. Kira-kira dua tahun lamanya beliau dalam perjalanan ini.
Dalam perjalanan ke negeri-negeri itu bertambahlah pengetahuan beliau tentang keadaan penghidupan dan tabiat manusia. Misalnya keadaan yang menimbulkan perbedaan adat dan akhlak, sangat berguna bagi beliau sebagai alat untuk mempertimbangkan hukum peristiwa-peristiwa yang akan beliau hadapi. Kemudian beliau diminta oleh Khalifah Harun Ar-Rasyid supaya tetap tinggal di Bagdad. Setelah menetap di Bagdad, disanalah beliau menyiarkan agama, dan pendapat-pendapat beliau diterima oleh segala lapisan.
Beliau bergaul baik dengan rakyat maupun dengan pemerintah, bertukar pikiran dengan ulama-ulama terutama sahabat-sahabat Imam Abu Hanifah, sehingga dengan pergaulan dan pertukaran pikiran itu beliau dapat menyusun pendapat “qadim” (pendapat beliau yang pertama). Kemudian beliau kembali ke Mekah hingga tahun 198 H. Pada tahun itu pula beliau pergi ke Mesir, di sana beliau menyusun pendapat beliau yang baru (qaulul jadid).
Kata-kata Syafii yang sangat perlu menjadi perhatian, terutama bagi ulama yang mendukung dan mengikuti mazhab Syafii, ialah “Apabila hadits itu sah, itulah mazhabku, dan buanglah perkataanku yang timbul dari ijtihadku”. Pengikut mazhab Syafii yang terbanyak ialah di Mesir, Kurdistan, Yaman, Aden, Hadramaut, Mekah, Pakistan, dan Indonesia.
Imam Hanbali (meninggal 241 H)
Ahmah bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal adalah nama beliau. Dilahirkan di Bagdad dan meninggal dunia pada hari jumat tanggal 12 Rabiul Awwal tahun 241 H. Semenjak kecil beliau belajar di Bagdad, Syam, Hijaz, dan Yaman. Beliau adalah murid Imam Syafii dan memuji beliau. Katanya, “Saya keluar dari Bagdad, tidak saya tinggalkan di sana seorang yang lebih takwa, lebih wara’, dan lebih alim selain selain Ahmad bin Hanbal, yang sungguh banyak menghafal hadits.”
Murid beliau banyak yang terkemuka, diantaranya yaitu Bukhari dan Muslim. Beliau berpegang teguh pada fatwa sahabat apabila tidak ada nas. Beliau menyusun mazhabnya atas 4 dasar.
Dasar pertama ialah nas Qur’an dan Hadits. Dalam soal yang beliau hadapi, beliau selidiki ada atau tidaknya nas, kalau ada nas, beliau berftawa menurut nas itu.
Dasar kedua ialah fatwa sahabat. Dalam satu peristiwa, apabila tidak ada nas yang bersangkutan dengan peristiwa itu, beliau cari fatwa para sahabat. Apabila ada fatwa dari salah seorang sahabat, sedangkan beliau tidak melihat bantahannya dari sahabat-sahabat lain, beliau hukumkan peristiwa itu menurut fatwa sahabat tadi. Jika fatwa itu berbeda antara beberapa sahabat, beliau pilih yang lebih dekat pada Kitab dan Sunnah.
Dasar ketiga ialah hadits mursal atau lemah, apabila tidak bertentangan dengan dalil-dalil yang lain.
Dasar keempat ialah qias. Beliau tidak memakai qias kecuali apabila tidak ada jalan lain.
Beliau sangat hati-hati dalam melahirkan fatwa apabila tidak ada nas atau asar sahabat. Kemungkinan besar karena sangat hati-hatinya beliau menjalankan fatwa itulah yang menyebabkan lambatnya mazhab beliau tersiar di daerah-daerah yang jauh, apalagi murid-murid beliau pun sangat berhati-hati pula. Mula-mula mazhab itu tersiar di Bagdad, kemudian berangsur-angsur keluar ke daerah-daerah lain. Sekarang yang terbanyak pengikutnya ialah Hijaz, apalagi sesudah Raja Ibnu Sa’ud menetapkan bahwa mazhab Hanbali menjadi mazhab resmi bagi pemerintah Saudi Arabia. Di mesir tidak tampak mazhab ini kecuali pada abad ke-7 H. Hingga sekarang tidak banyak rakyat Mesir yang mengikuti mazhab ini.
Demikianlah ringkasan seputar empat Imam besar yang paling berpengaruh dalam perkembangan hukum fiqih Islam, semoga bermanfaat dan menjadi pelajaran bagi kita semua. Amin

sumber buku yang berjudul : FIQIH ISLAM. oleh: H. Sulaiman Rasjid

Sumbangan Umat Islam Terdahulu


Sebuah buku yang menurut saya bagus untuk di baca. Buku yang menuliskan bagaimana sebenarnya kita menjadi makhluk yang cemerlang, bukan hanya di dunia tetapi juga cemerlang dalam mendapatkan kebahagiaan akhirat. Saya mengatakan bagus untuk di baca karena buku ini berlandaskan pada Al-Qur’an artinya kalimat maupun kata yang terdapat dalam Al-Qur’an adalah benar dan merupakan panduan manusia dalam menjalankan aktivitasnya baik yang berhubungan dengan dunia maupun akhirat, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Selain itu, buku ini juga dilengkapi dengan pengalaman-pengalaman para ilmuwan muslim terdahulu bagi perkembangan dunia sekarang atau dengan kata lain pembuktian bahwa jika kita (umat islam) benar-benar menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai induk dari segala urusan maka akan terlihat bahwa umat islam adalah umat yang terbaik di muka bumi (QS. Ali-Imran). Salah satu kutipan kalimat dalam Al-Qur’an yang di tulis pada cover buku ini adalah “Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya” (QS. Al-Anbiya[21] : 10).
Buku yang berjudul Al-QUR’AN FOR LIFE EXCELLENCE Tips-Tips Cemerlang dari Al-Qur’an. Buku ini terdiri dari 36 tips menjadi cemerlang dalam arti kata yang sebenarnya. Tips yang bisa saya ringkas dalam buku ini adalah tips 4 : Cemerlang dengan Ilmu Terkini. Tips ini menceritakan peran ilmuwan muslim terdahulu dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang. Tips ini saya ambil karena menurut saya dapat memacu kembali semangat umat islam dalam berkarya karena sebenarnya kita umat islam memiliki potensi yang besar dalam berkembang.
Berikut adalah ringkasan dalam buku ini mengenai peran beberapa ilmuwan muslim terdahulu dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang, yaitu:

Abu Al-Qasim Al-Zahrawi (936-1013 M)
Meciptakan banyak alat bedah seperti alat pemeriksaan telinga dan saluran kencing. beliau adalah orang pertama yang mengenal betul penyakit hemofilia yang merupakan penyakit turunan atau genesis. kitab beliau At-Tafsir diterjemahkan oleh Gherard dari Cremona ke dalam bahasa Latin sebelum diterjemahkan ke dalam bahasa Hebrew, Prancis, dan Inggris. At-Tafsir menjadi bahan rujukan selama 5 (lima) abad di Universitas Salerno Italia, Montpellier di Prancis dan beberapa Universitas lain di Eropa. menurut Dr. Campbell, di dalam History of Arab Medicine, di Eropa prinsip-prinsip sains kedokteran yang diutarakan oleh Zahrawi sebenarnya mengungguli Galen.
Abu Ali Hasan bin Haithman (965-1040 M)
Beliau membuat penelitian tentang cahaya termasuk cahaya pada waktu matahari terbit. Beliau adalah orang pertama yang dapat menjelaskan bagian-bagian mata dan proses penglihatan. Bukunya Al-Manadhir diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Begitu juga buku-bukunya yang berkaitan dengan cahaya dan warna pada waktu matahari terbit. Tokoh-tokoh sains Barat, seperti Roger Bacon, Pole Witelo (Vitellio) dan yang lainnya banyak merujuk pada tulisan Haitham ini.
Ibnu Sina (980-1037 M)
Beliau adalah orang pertama yang menjelaskan penyakit radang selaput otak atau meningitis. Sumbangan beliau paling besar adalah buku pengobatan yang berjudul Al-Qanun. Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Gerard dari Cremona pada abad ke-12 dan menjadi buku teks di sekolah-sekolah kedokteran yang terkenal pada abad ke-20, Dr. William Osler, pengarang buku Evolution of Modern Sains berkata, “Qanun” menjadi buku rujukan utama dalam bidang kedokteran lebih lama daripada buku-buku lainnya.
Yaqub Ibn Ishaq Al-Kindi (800-873)
Merupakan orang pertama yang menetapkan kaidah penetapan dosis dalam penggunaan obat-obatan pada zamannya. Kurang lebih 250 buah buku telah beliau tulis dan beberapa bukunya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Gherard dari Cremona. Cardano menganggap Al-Kindi sebagai salah seorang dari 12 orang pemikir agung di dunia pada Abad Pertengahan.
Abu Abdullah Al-Battani (868-929)
Penemuan beliau yang sampai sekarang digunakan yaitu menetapkan tahun syamsiah dengan 365 hari, 5 jam, 46 menit, dan 24 detik. Beliau juga menonjol dalam bidang trigonometri dan matematika, memperinci kaidah perhitungan dengan menggunakan konsep sinus dan tangen. Buku-buku beliau di bidang astronomi diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada abad ke-12. Copernicus di dalam bukunya De Revolutionibus Orbium Clestium menyatakan beliau berutang budi pada Al-Battani.
Mohammad Ibn Zakariya Ar-Razi (864-930 M)
Penyakit campak dan cacar adalah orang pertama yang menemukan. Beliau juga penggagas bidang kedokteran anak, ibu hamil, dan penyakit mata. Buku Al-Hawi adalah ensiklopedia kedokteran terbesar pada zamannya dan dikenal dengan Continens dalam bahasa Latin. George Sarton dalam History of Science menyatakan bahwa Ar-Razi adalah seorang tokoh kedokteran Islam yang paling terkemuka pada Abad Pertengahan.
Jabir Ibn Haiyan (meninggal 803 M)
Beliau berhasil melaksanakan prosedur sains seperti pengkristalan, penyulingan, kalsinasi, sublimasi, dan pemadatan. Buku-buku beliau, seperti Kitab Al-Kimya dan Kitab Al-Sab’een diterjemahkan dalam bahasa Latin. Buku ini menjadi populer di Barat selama beberapa abad lamanya. Beberapa unsur kimia yang digunakan Jabir masih dikenal sampai saat ini, seperti Alkalin, dll. Pemikir Barat Max Mayerhaff berkata bahwa pengembangan imu kimia modern di Eropa tidak dapat dipisahkan dari Jabir Ibn Haiyan.
Mohammad Ibn Musa Al-Khawarizmi (meninggal 840 M)
Khawarizmi sangat terkenal di bidang ilmu matematika. Beliau adalah penggagas ilmu aljabar. Bahkan, nama aljabar diambil dari nama buku beliau Al-Jabr wal-Muqabilah. Konsep algoritma diberi nama mengikuti namana, yaitu Khawarizmi. Menurut pemikir Barat Philip K. Hitti, Khawarizmi banyak memengaruhi barat dari sudut ilmu matematikanya yang mengalahkan para penulis lain.

Itulah beberapa tokoh atau ilmuwan islam terdahulu yang memiliki banyak pengaruh bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi zaman sekarang. Hal seperti inilah yang sepatutnya kita ikuti agar umat islam kembali berjaya dan menunjukkan kemanfaatannya bukan hanya untuk kita tetapi untuk dunia. Karena dalam Al-Quran mengatakan bahwa “kita (umat islam) adalah umat yang terbaik”. Kalimat ini akan berlaku jika umat islam benar-benar menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai induk dan petunjuk dalam setiap aktivitas kita. Semoga hal ini bermanfaat bagi kita semua. Amin

kutipan dari buku berjudul " Al-qur'an For Life Excellence tips-tips cemerlang dari Al-Qur'an (tips 4). oleh Dr. Danial Zainal abidin